Aku memiliki seorang teman di fakultas kemiliteran. Dialah orang nomor satu dalam segala hal yang berkaitan dengan ketaataannya kepada Allah, kebaikan akhlaqnya, belajarnya dan pergaulannya. Dia selalu beribadah dimalam hari, selalu menjaga sholat Shubuh dan yang lainnya dan dia senang berbuat baik. 



Tatkala dia telah lulus dan bergembira sebagaimana kegembiraan para mahasiswa dikarenakan telah lulus, tiba-tiba dia menderita influenza. Penyakitnya ini bertambah parah hingga menyerang tulang belakangnya, maka diapun menderita lumpuh total dan dia tidak dapat bergerak sama sekali, hingga dokter yang merawatnya berkata padaku bahwa mnurut perkiraannya tidak ada harapan lagi untuk sembuh dan kemungkinan keadaannya kembali seperti semula tidak lebih dari 10%. Maka aku berkata Alhamdulillaah'ala Kulli Hal (segala puji bagi Allah dalam segala keadaan) dan aku memohon kepada Allah untuk kesembuhannya. Kemudian aku mengunjunginya dirumah sakit untuk menghibur dan mengingatkannya agar dia selalu ingat kepada Allah dan berdo'a kepadanya. Akan tetapi justru dialah yang mengingatkanku agar selalu ingat kepada Allah. Aku mendapatinya dengan wajah yang penuh dengan cahaya dan bersinar dengan keimanan.

Kemudian dia melontarkan satu kalimat, ya.. kalimat ini sungguh sangat mengagumkan, dia tidak mengadu  juga tidak mengeluh, dia tidak pula berkata "Bagaimana pendapatmu mengenai apa yang menimpa diriku, wahai saudara Khalid." . Tetapi dia berkata, "Wahai saudaraku, barangkali Allah telah mengetahui kelalaianku dalam menghafal Al-Qur'an, lalu Dia mendudukkanku (istirahat) agar aku mempunyai waktu luang untuk menghafal Al-Qur'an. Ini salah satu nikmat Allah." Subhanallaah, apa yang dikatakannya ini? Darimana ungkapan ini diambilnya? Bagaimana mungkin musibah berubah menjadi nikmat? Inilah keimanan yang telah membuat beberapa mukjizat, karena anugerah dan taufiq dari Allah.

Mahabenar Allah yang telah membalas orang yang sabar dan mengucapkan kalimat istirja' (Innaa lillaahi wa Innaa ilahi Raaji'uun) ketika tertimpa musibah, bahwa orang tersebut akan mendapatkan tiga balasan, sebagaimana Firman Allah :


أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ :١٥٧

"Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". [Qs. Al-Baqarah : 157]



Alangkah indahnya ungkapan yang diucapkannya itu. Demi Allah, ungkapan itu sebanding dengan berpuluh-puluh kalimat teori. Karena keteguhan imannya telah mendidik dan mengajarkan sesuatu yang banyak, dan pada setiap keadaan itu ada kebaikan.

Selang beberapa waktu, aku menjenguknya, ketika itu beberapa orang kerabatnya sedang berada disisinya, lalu aku mengucapkan salam kepadanya dan mendo'akannya. Aku mendengar darinya sesuatu yang membuatku kagum untuk kesekian kalinya....

Putra pamannya berkata kepadanya "Cobalah berusaha menggerakkan kaki... Angkatlah keatas!" Namun justru dia berkata, "Sesungguhnya aku malu kepada Allah, jika aku meminta segera disembuhkan, maka jika Allah telah mentakdirkan bagiku dan menetapkan kesembuhan, maka segala puji bagi-Nya. Namun jika hal itu belum ditakdirkan, Maka segala puji tetap Milik-Nya... Allah mengetahui terhadap apa yang lebih baik bagiku..., mungkin saja pada kesembuhan akan menyebabkan sesuatu yang tidak terpuji akibatnya..., mungkin aku akan berjalan dengan kedua telapak kakiku ini menuju sesuatu yang haram..., akan tetapi aku tetap memohon kepada Allah agar Dia menetapkan yang terbaik untukku, karena Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ 

شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُون

"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." [Al-Baqarah: 216] 





Sumber : Lc, Arman Amri. 2005. Jangan Berputus Asa AKHRINYA PERTOLONGAN ITU DATANG. Bogor : Pustaka Ibnu Katsir.