Harga Waktu Ayah
- ..
Andre, seorang anak setiap sore selalu menanti kepulangan ayahnya dari kantor sekedar untuk mengajaknya bermain. Suatu sore, sepulang kerja, ayah tersebut ditanya oleh andre, “Ayah, ayah kerja di kantor dibayar berapa sih sebulan?”
Sembari
mengernyitkan dahi si ayah menjawab, “ya, sekitar Rp2.500.00,00!”
“Kalau
sehari berarti berapa ya?” sela andre.
Sang
ayah mulai bingung, “seratus ribu rupiah, ada apa sih? Kok tanya gaji segala!”
akan tetapi, Andre tetap bertanya lagi, “kalau setengah hari berarti
Rp50.000,00 dong?”
“iya,
memangnya kenapa?” sahut ayahnya mulai jengkel.
Si
anak dengan mantap mengajukan permohonan, “Gini, yah! Tolong tambahin dong
tabungan andre, Rp5000,00 saja. Soalnya andre sudah punya tabungan sebesar
Rp45.000,00. Rencananya, andre mau membeli ayah setengah hari saja supaya kita
bisa pergi memancing bersama!”
***
Satu hal
yang sering menjadi kendala kita sebagai ayah dalam membangun tatanan keluarga
yang tangguh dan harmonis adalah si pencuri waktu. Urusan
kantor, bisnis sampingan maupun kegemaran pribadi acap kali menjadi musuh dalam
selimut yang secara tidak langsung merongrong kesempatan emas yang kita miliki
untuk bercengkerama dengan anak. Dalih yang biasa dipergunakan oleh si
pencuri waktu sendiri adalah demi masa depan keluarga, loyalitas
kerja, atau untuk membiarkan asap dapur tetap ngebul.
Siapa
ayah sebenarnya? Ketika masih kecil, kerap kali anak mengklaim bahwa pahlawan
(hero) yang paling hebat adalah ayahnya sendiri. Sering pula anak melakukan
proses identifikasi dengan “ke-pria-an” yang diaktualisasikan sang ayah. Bunyi
yang paling menggetarkan didengar oleh sang ayah, ketika untuk pertama kalinya
si anak mengatakan, “Papa” atau “Ayah” atau “Abah” atau sebutan lain. Bahkan,
seorang filsuf pernah mengatakan bahwa Tuhan yang dilihat si anak pada masa
kecilnya adalah ayahnya sendiri. Ahli lain mengatakan, pohon dikenal melalui
buahnya (like father like son). Setelah besar dan menginjak remaja
atau pemuda, tidak jarang posisi ayah yang tadinya pahlawan kini beralih
menjadi musuh.
Investasi
terindah yang dapat kita berikan kepada putra-putri kita adalah waktu dan
kualitas komunikasi yang proporsional bagi mereka. “Kehadiran dan percakapan
Anda di hadapan anak-anakmu, lebih dari ribuan hadiah.” Kurangnya komunikasi di
rumah akan membuat anak mencari informasi dari dunia luar rumah yang belum
tentu benar adanya.
“Apa
yang ditabur, itu pula yang dituai,” demikian pepatah lama masih terngiang
jernih dalam ingatan kita. Ketika anak masih kecil, sebagai orangtua (ayah)
jarang mendengarkan mereka. Setelah mereka besar, mereka pun akan jarang
mendengarkan orang tuanya. Inilah awal mulanya terkenal istilah kenakalan
remaja, yang secara tidak sadar dikontribusikan terlebih dahulu oleh kenakalan
orangtuanya, yang telah berselingkuhan dengan si pencuri waktu.
Itulah sebabnya Spencer Johnson dalam bukunya “The One Minute Father”
mengatakan cara terbaik agar anak-anak kita mendengarkan kita adalah
dengan mendengarkan mereka. Bagi si anak, didengarkan merupakan bagian penting
dalam implementasi cinta orangtuanya. Jika ditelusuri lebih lanjut, memang ada
perbedaan besar antara dicintai dan merasa dicintai.
Bill
Havens, seorang pendayung hebat yang berskala internasional ketika dalam masa
karantina untuk persiapan piala dunia mendayung menerima teleks yang mengatakan
bahwa istrinya kemungkinan dalam 2-3 hari lagi akan melahirkan. Setelah
menerima kabar, Bill memilih dan memutuskan berangkat
ke kota asalnya dan berpamitan untuk tidak mengikuti kejuaraan dunia yang telah
dipersiapkan baginya. Ia memutuskan untuk menunggui istrinya yang akan
melahirkan ketika itu.
Pada
1952, Bill Havens mendapatkan telegram dari putranya,Frank yang baru saja
memenangkan medali emas dalam final kano 10.000 meter pada Olimpiade di
Helsinki,Finlandia. Telegram tersebut berbunyi “Ayah, terima kasih karena telah
menunggui kelahiran saya. Saya akan pulang membawa medali emas yang seharusnya
Ayah menangkan beberapa tahun yang lalu....Anakmu tersayang,Frank”
Bekerja
tidak akan memberikan investasi lebih permanen jika dibanding dengan memberikan
waktu yang cukup untuk anak dan keluarga. Usia 55 tahun merupakan akhir dan
perhentian berkarya . Namun, karya yang diinvestasikan dalam kenangan anak
tidak akan berakhir hingga maut yang memisahkannya. Pilihan, tentu ada dalam
diri masing-masing, namun Bill Havens dalam cerita di atas telah memilih yang
terbaik. Sekaligus mengingatkan kita pada pernyataan Patrick M. Morley yang
spektakuler , “Saya lebih memilih untuk tidak menjadi siapa-siapa, asalkan bisa
menjadi seseorang yang berarti bagi anak-anak saya.”
Mungkin
lagu yang pernah kita dengar sebelumnya dapat kita dengar kembali dari alam
sana menjadi senandung terindah, ketika anak-anak yang kita kasihi menyanyikan
lagu reff-nya Rinto Harahap : “Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi. Walau
air mata di pipiku. Ayah dengarkanlah,aku ingin bertemu. Walau hanya dalam
mimpi.”
Sumber
: Marpaung, Parlindungan. 2013. Setengah Isi Setengah Kosong.
Cimahi : Trim Komunikata